Biologi kelas 10 semester 1

Kelebihan dan kekurangan konservasi in situ dan ek situ

In situ

Kelebihan:

  • Makhluk hidup lebih nyaman dengan lingkungannya yang merupakan tempat asalnya sehingga hewan tersebut tidak stress

Kekurangan:

  • Makhluk hidup tidak dapat terlalu terkontrol dan populasinya bahkan dapat menurun karena bisa saja diburu oleh pemburu liar dan tidak mendapatkan makanan yang cukup (kalah bersaing atau pun saat ada krisis pangan).
  • Makhluk hidup tersebut menjadi bergantung pada manusia sehingga kehilangan natur aslinya (misalnya singa menjadi tidak pandai berburu dan menjadi jinak).

Ex situ

Kelebihan:

  • Hidupnya lebih terjamin karena dipantau dan dikontrol dengan baik kebutuhannya
  • Tetap memiliki natur aslinya (misalnya tetap menjadi singa yang ganas dan pandai berburu).

Kekurangan:

  • Hewan tersebut dapat mengalami stress karena berada di tempat yang bukan merupakan habitat aslinya

Kegunaan / pentingnya sistem klasifikasi dalam biologi

  • Ada berbagai jenis makhluk hidup yang banyak di dunia ini. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu sistem yang jelas dan terkoordinasi, yaitu sistem klasifikasi. Sistem klasifikasi sangat penting untuk memudahkan pembelajaran makhluk hidup yang ada di dunia, yaitu agar dapat mendeskripsikan ciri-ciri makhluk hidup, membedakan satu makhluk hidup dengan yang lainnya agar mudah dikenal, mengelompokkan makhluk hidup, dan mengetahui hubungan kekerabatan antar makhluk hidup.

Hubungan mutualisme, komensalisme, dan parasitisme yang berhubungan dengan manusia

  1. Mutualisme:
    1. Manusia dan hewan dengan tumbuhan
    2. Manusia dengan bakteri usus
    3. Manusia dengan hewan peliharaan

Komensalisme:

  1. Manusia dengan tumbuhan buah liar
  2. Manusia dengan ulat sutera
  3. Manusia dengan tumbuhan kapas

Parasitisme:

  1. Manusia dengan nyamuk
  2. Manusia dengan kutu
  3. Manusia dengan cacing kremi

Pengurai dan detritivor

  • Pengurai adalah organisme heterotrof yang memperoleh makanan dengan cara menguraikan (memecah dan memetabolisme molekul-molekul) konsumen atau pun produsen yang sudah mati (contohnya adalah bakteri dan jamur saprofit). Sedangkan, detritivor adalah organisme yang memakan detritus (sampah) yang biasanya ditinggalkan oleh pengurai setelah pengurai selesai melaksanakan tugasnya, misalnya cacing tanah, serangga tanah, siput, keluwing, dan tripang. Organisme-organisme ini sangat berguna di ekosistem karena berperan untuk menguraikan dan memakan makhluk hidup yang sudah mati agar produsen yang masih hidup dapat mendapatkan nutrisi yang diperlukan dan bangkai dari makhluk hidup yang mati itu tidak mengganggu yang lain (daur biogeokimia). Itulah alasan apabila ada bangkai tikus misalnya, hanya akan tersisa tulangnya saja karena adanya detritivor dan dekomposer.

Keunikan hewan asiatis, peralihan, dan australis

  • Hewan-hewan asiatis mempunyai karakteristik yang sama seperti hewan-hewan di Asia, yaitu adanya mamalia besar (gajah, banteng, orangutan, kera, tapir, badak, harimau, rusa, babi hutan), primata (kera, monyet proboscis, monyet, bekantan, orangutan, tarsius, dan sebagainya), berbagai jenis burung berkicau (jalak, perkutut, kutilang, burung heron, burung merak, dan sebagainya), dan berbagai ikan air tawar. Hewan-hewan tersebut berada di wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali.
  • Hewan-hewan peralihan mempunyai karakteristik yang seperti Asia dan Australia. Maka itu, hewan-hewan unik tersebut dinamakan hewan peralihan. Contoh hewannya adalah komodo, tarsius, anoa, babi rusa, kuskus, dan burung maleo. Salah satu contoh keunikannya adalah mamalia berkantung yang berukuran sekitar 29 – 100 cm kurang lebih, yaitu kuskus. Hewan-hewan tersebut hanya berada di wilayah Sulawesi dan Kepulauan Nusa Tenggara (bagian tengah), hewan-hewan tersebut tidak dapat ditemukan di tempat lain.
  • Hewan-hewan australis mempunyai karakteristik yang sama seperti hewan-hewan di Australia, yaitu tidak ada kera, hewan mamalia yang berukuran kecil, biasanya hewannya berkantung (kanguru), mempunyai sedikit jenis ikan air tawar, dan banyak jenis burung bewarna (cendrawasih, kasuari, kakatua) yang berada di wilayah Papua dan kepulauan Aru (bagian timur).

Hubungan antara endositosis dengan hidrolisis

  • Ketika ada bakteri yang tidak baik bagi tubuh, sel darah putih khususnya akan mencoba untuk menghancurkan bakteri tersebut. Cara pertama yang harus dilakukan adalah dengan cara endositosis (proses pemasukan zat dari luar sel ke dalam sel), khususnya adalah fagositosis (memakan). Setelah, bakteri tersebut ada pada dalam sel tersebut, maka lisosom akan menghancurkannya dengan proses hidrolisis yang menggunakan enzim hidrolitik yang hanya bisa aktif pada pH 5.

Kerja sama antar organel di sel hewan

  • Terjadi kerjasama yang baik pada organel-organel dalam mensintesis protein. Pada awalnya, nukleus akan mensintesis ribosom. Ribosom tersebut akan diletakkan pada permukaan retikulum endoplasma kasar yang terhubung dengan nukleus. Ribosom mempunyai peran dalam mensintesis protein. Setelah protein dihasilkan oleh ribosom, protein tersebut akan disimpan beberapa di dalam retikulum endoplasma dan dikirimkan ke badan golgi berupa vesikel transpor. Di badan golgi, protein tersebut akan dibentuk menjadi lisosom (vesikula sekresi) yang akan disekresikan ke luar sel atau pun dapat disimpan untuk kebutuhan lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s